Selasa, 10 Juli 2012

Koperasi Pertanian China

Dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di dunia, China diprediksi bakal menjadi negara adidaya ekonomi dunia di masa depan. Koperasi pertanian ternyata memberikan kontribusi besar terhadap pencapaian itu.

Dalam konstelasi ekonomi du­nia dewasa ini, China tampil sebagai kekuatan yang mecengangkan. Negeri Tirai Bambu ini melaju dengan pertumbuhan rata-rata 10 persen, tercepat dibandingkan negara maju manapun. Berbagai produk made in China, bukan cuma menggelontori pasar negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga membanjiri hampir semua nega­ra maju. Dengan surplus perdagang­an internasionalnya, China mampu menghimpun cadangan devisa paling gemuk di dunia.

Perkembangan ekonomi China itu, memang merupakan buah reformasi yang dilakukan secara konsisten. Namun, kunci masuknya tetap saja sektor pertanian. Sebagai negara berpenduduk 1,3 miliar, masalah menda­sar yang harus diamankan dulu oleh China, sudah pasti pemenuhan kebutuhan pangan penduduknya.

Karena itu, sektor pertanian mendapat sentuhan pertama dari proses reformasi ekonomi China. Hasilnya, pada era 70-an sektor ini sudah mampu menciptakan swasembada pangan. Dengan sektor pertanian yang tangguh, China pun mulai mengembangkan industri manufaktur, yang menghasilkan berbagai produk. Namun begitu, perhatian terhadap sektor pertanian, tidak pernah dikendurkan, kendati dengan lahan yang makin menyempit. Dari luas wilayah mencapai 9,6 juta km2, tinggal 1,27 juta km2 yang tersisa untuk pertanian.

Sukses pertanian China, tidak lepas dari kawalan koperasi, yang sudah men­-
jadi bagian dari kehidupan petani sejak lebih dari 80 tahun lalu. Nama koperasi petani China cukup unik, yang dipopu­lerkan dalam bahasa Inggris dengan Supply and Marketing Cooperative (SMC). Sesuai dengan namanya, koperasi berperan penting dalam melakukan pengadaan untuk semua kebutuhan usaha tani seperti bibit, pupuk, peralatan dan lainnya, serta pemasaran komoditi pertanian yang dihasilkan.

Kegiatan pengadaan dan pemasaran tersebut bisa dilakukan secara sangat efisien, karena SMC sudah membentuk jaringan yang sangat luas dan solid. Di level nasional, koperasi petani tersebut mempunyai sekunder bernama All-China Federation of Supply and Marketing Cooperatives (ACFSMC). Secara keseluruhan, ACFSMC menghimpun 22.537 SMC, dengan anggota perorangan men­capai 160 juta petani. Jaringan ini, ter­sebar di 31 provinsi, 336 prefecture dan 2.370 country federation.

Dengan memanfaatkan jaringannya, saat ini ACFSMC menguasai lebih dari 60 persen perdagangan pupuk dan pestisida di China. Untuk memaksimalkan jaringan, koperasi ini kemudian melebarkan sayap bisnisnya hingga merambah ke bidang ritel, mulai dari tingkat grosir sampai eceran. Tercatat ada 1.504 toko grosir dan 89 ribu outlet milik koperasi, yang mendukung bisnis yang berkibar dengan bendera Suguo Supermarket Co. Ltd, ini.

Tidak berhenti sampai di sini, ACFSMC kemudian mengalokasikan surplus dari bisnis pertanian dan ritel, de­ngan melakukan ekspansi lebih luas lagi. Industri manufaktur, tektil, perhotelan, pendidikan sampai restoran, menjadi rambahan bidang bisnis selanjutnya, yang membikin kinerja bisnis makin berotot.

Khusus untuk pemasaran komoditi pertanian, sasarannya tidak lagi sebatas seluruh daratan China, tetapi juga ke sentero dunia. Dengan efisiensi yang diciptakan oleh jaringan koperasi hingga ke tingkat petani, beberapa komoditi pertanian China mengalami surplus, hingga secara ekspansif menyerbu pasar ekspor dan sempat membuat sektor pertanian negara lain termasuk raksasa Amerika Serikat, keteteran menghadapinya.

Selain mengekspor, ACFSMC juga melakukan impor berbagai produk yang dibutuhkan di China. Sebagai gambaran, pada 2005 volume ekspor yang dicetak mencapai 3 miliar dolar AS, sedangkam impor 2 miliar dolar AS.

Pencapaian gemilang yang digapai jaringan koperasi petani China, memang tidak lepas dari peran pemerintah yang sangat kuat. Sebagai negara yang menganut sistem komunis, Peme­rintah China mengandalkan koperasi untuk menjadi wadah untuk memobi­lisasi petani dalam menjalankan usaha taninya.

Namun, peran para pengelola kope­rasi juga tidak bisa diabaikan. Mere­ka mampu memaksimalkan berbagai dukungan pemerintah, untuk memper­kuat basis bisnis koperasi, bukan malah makin tergantung. Dengan begitu, ke­tika ekonomi China membuka diri sebagai tuntutan globalisasi, koperasi be­nar-benar siap untuk mempertahan­kan bisnis, bahkan melakukan ekspansi hingga ke berbagai belahan dunia.

Kendati tumbuh di tanah komunis yang pekat dengan “campur tangan” pemerintah, koperasi petani China tidak lantas kehilangan nilai dasar (jatidiri) sebagai koperasi, terutama dalam menjalankan misi utama untuk me­ningkatkan kesejahteraan petani yang menjadi anggotanya. Sebagai sekun­der nasional, ACFSMC juga ba­nyak melakukan kerja sama bahkan ban­tuan untuk pengembangan kope­rasi pertanian di negara lain. Pada Mei 2008 lalu, misalnya, ACFSMC menyumbang dana sebesar 20 ribu dolar AS untuk pengembangan koperasi pertanian di Myanmar.

Andalan di Masa Revolusi dan Reformasi
Pergolakan dan pertumbuhan ekonomi China, selalu ditandai dengan peran penting petani. Posisi petani selalu tak tergoyahkan, karena mereka bergabung dalam koperasi.

Sudah sekitar 80 tahun koperasi hadir di tanah China, terutama di lingkungan petani. Selama itu pula, koperasi mengawal petani melewati pergolakan revolusi, hingga reformasi di bidang agragria. Petani China memainkan peran sangat pen­ting, dari dua peristiwa yang sangat menentukan dalam sejarah Republik Rakyat China itu.

Revolusi pertama terjadi pada 1923, setelah perang candu. Gerakan petani menjadi andalan untuk melawan pendudukan Jepang. Setelah Jepang terusir, petani mempunyai kekuatan untuk mendesak peme­rintah agar dilakukan landreform atau pembagian tanah pertanian secara adil. Koperasi sudah berperan dalam proses landreform.

Revolusi kedua, meletus pada 1949, menyusul diproklamirkannya negeri Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang kemudian dikenal de­ngan Republik Rakyat China sampai sekarang., sekaligus menandai dianutnya sistem komunisme secara penuh. Lagi-lagi para petani menjadi tulang punggung, untuk menggu­lingkan kekuasaan borjuis.

Sejalan dengan nasionalisasi pe­rusahaan secara besar-besaran, pe­merintah pun berperan aktif dalam melakukan landreform, yang me­ngarah pada pemilikan kolektif lahan pertanian. Para petani dihimpun kembali dalam koperasi, yang diberi nama Hu-chu-tsu (koperasi suka rela). Koperasi beroperasi dalam kelompok kecil 4 sampai 5 keluarga, ker­jasama dibidang pengumpulan te­naga, tanah, binatang, alat-alat milik perorangan. Dalam periode 1950-1952 anggota koperasi meningkat dari 10,7 persen menjadi 40 persen

Pada 1953, bentuk koperasi dirubah menjadi Agricultural Producers Cooperative (APC) atau Nung-Ych Shen-Ch’an Lo-Tso She (Koperasi Produsen Pertanian). Model kerjanya, tanah dimiliki kolektif, pemilik tanah semula masih menerima deviden sebagai tambahan upah berdasarkan butir kerja (work points). Pada 1956 koperasi model seperti ini baru disahkan. Sampai 1953, jumlah anggota mencapai 15 orang atau hanya 1,2 persen dari jumlah keluarga, kemudian meningkat menjadi 633.000 serta mempertahankan anggota 20-30 rumah tangga.

Model koperasi kemudian diubah lagi menjadi Koperasi Produsen yang Lebih Maju (Kao-Chi/Advance APC`S). Koperasi ini disebut juga Koperasi Maju Tipe Sosialis Penuh. Model kerjanya, progam pertanian 12 tahun, kepemilik­an bersama alat produksi, keuntung­an hanya dari penghasilan berdasarkan butir jam, kerja meliputi subsidi air, perternakan, holtikultura, kebudayaan, dan pelayanan kesehatan, membentuk brigade produksi (Sheng-Ch`an-Tu). Jumlah anggota meningkat menjadi 96 persen.

Pro dan kontra yang kemudian muncul adalah apakah anggota koperasi itu kecil atau besar, semisal anggotanya yang 171 rumah tangga diturunkan menjadi 100 rumah tangga saja. Di sisi lain, APC`S memiliki sumber kelemah­an dalam hal akuntansi, manajemen dan tekhnik.

Sepanjang 1953-1956, meski terjadi gagal penen sehingga menciptakan krisis pangan yang berdampak eksodusnya penduduk desa ke kota serta inflasi, tetapi secara umum sektor pertanian menunjukan kemajuan. Produksi pertanian dan pedesaan naik antara 3,1 persen -7,7 persen, atau rata-rata 4,8 persen pertahun.

Kendati namanya diubah-ubah, namun koperasi yang ada di lingkungan petani sebetulnya masih bersifat semu, terutama karena proses pembentuk­an dan sistem kerjanya benar-benar di­arahkan pemerintah. Ketika itu, perekonomian China secara umum masih memprihatinkan.

Keadaan mulai berubah angin reformasi mulai bertiup, seiring dengan ren­­cana besar pemerintah untuk me­lakukan da yue din, lompatan jauh ke depan. Gerakan ini dimulai dengan upaya-upaya untuk mengentaskan rak­yat dari kemiskinan. Karena seba­gian besar rakyat miskin hidup di sektor pertanian, maka sektor ini men­jadi salah satu prioritas pengembangan.

Sekali lagi, koperasi dijadikan andalan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, pengelolaan koperasi sudah mulai seperti yang berjalan pada koperasi secara universal, kendati peran pemerintah sangat besar. Kendati pada awalnya koperasi hanya menyalurkan berbagai kebutuhan usaha tani yang disediakan pemerintah, namun secara bertahap koperasi mampu memba­ngun fondasi bisnis.

Setelah menghantarkan China pada swasembada pangan pada era 70-an, koperasi mulai melakukan langkah pemasaran produksi pertanian, hingga namanya menjadi Supply and Marketing Cooperative (SMC). Ketika reformasi di China makin me­ngarah pada terciptakan sistem pa­sar terbuka, koperasi sudah benar-benar siap mengembangkan sayap bisnisnya. Terlebih setelah di tingkat nasional membentuk All-China Fede­ration Supply and Market Cooperative, sebagai koperasi sekunder koperasi pertanian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar